Tampilkan postingan dengan label backpacking. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label backpacking. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Juli 2014

Sekali Mendaki Double Summit Gede-Pangrango Terlampaui


23-24 Juni 2014

Ini udah tahun ke tiga aku melakukan pendakian sebelum bulan puasa, entah akan berlanjut ditahun-tahun berikutnya dan menjadi sebuah ritual khusus atau enggak *beeeuhh..bahasanya*. iya, ini bisa dikatakan penutupan pendakian sebelum puasa. Di tahun pertama dulu tahun 2012 ke Lawu, tahun 2013 ke Semeru, dan sekarang tahun 2014 ke Gede-Pangrango, double summit pula beeeuhh.. harusnya puasa tahun ini harus makin semangat dari tahun-tahun sebelumnya.

Pendakian kali ini bareng sodara sepupu, jadi ya masalah perijinan dijamin gampang. Ada 4 personel Aku, Ilham (sepupu), Candra, dan Dima. Mereka itu temennya Ilham di kampus, dan mereka udah ada di Bogor, jadi aku jalan sendiri dari Klaten. Hmm.. berani gak yah, cewek, sendirian, naik kereta, bawa carrier segede kulkas dua pintu. Harus kuat mental juga sih, di stasiun, di kereta, di jalanan diliatin orang-orang, cewek, sendirian, ngangkut carrier, kayak orang ilang hahaha…

Hari Sabtu, 21 Juni 2014 jam 16.00 udah duduk manis di kereta. Udah janjian sama Ilham ntar mau jemput di stasiun Jatinegara, soalnya sampainya pagi banget. Jam 02.00 udah sampai di Bogor Alhamdulillah.

Hari Minggu, 22 Juni 2014 jam 16.00 mulai berangkat ke Cibodas dengan naik motor, kalo waktu normal 2 jam udah sampai. Baru pertengahan jalan udah hujan. Etdaaaahh… ini kenapa kawasan puncak macet banget, kebetulan puncak sore itu diberlakukan sistem buka tutup, agak malam deh ntar sampainya. Akhirnya jam 19.00 sampai juga di Balai TNGGP. Kita nunggu tengah malam karena kita cuman booking 1 SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi), itu artinya pendakian hanya selama 2 hari gak kurang gak lebih. Oya, setiap pendaki yang mau mendaki Gunung Gede-Pangrango wajib mempunyai SIMAKSI. Untuk mengurusnya harus jauh-jauh hari sebelum pendakian, dan cara bookingnya secara online disini.
Udah diniatin dari rumah rencananya mau double summit. Agak ragu juga sih sebenernya dengan kemampuanku, apalagi disini aku cuman cewek sendirian, yaudahlah bismillah. Jam 23.00 kita mulai jalan menuju pos pemeriksaan simaksi. Alhamdulilah, walaupun sore tadi hujan yang penting sekarang cerah.
Dima-Aku-Ilham
Senin, 23 Juni 2014
Tengah malem, abis hujan, dingin, kita mulai melangkahkan kaki, diawali dengan berdoa tentunya. Di awal perjalanan, trek berupa tanjakan berbatu yang udah ditata dengan rapi. Aku langsung mikir, ini jalurnya kayak jalur pendakian Lawu via Cemoro Sewu, tanjakan berbatu yang udah tertata dengan rapi. Iya, karena TNGGP ini selain untuk pendakian juga untuk tempat wisata. Disini ada tempat wisata telaga biru, air terjun Cibeureum, air panas, dan ada beberapa air terjun yang lain tapi aku lupa namanya. Tapi sayang, sekarang telaga birunya udah gak ada. Dari info yang aku terima sih katanya airnya tercemar trus alirannya dialihkan begitu.
trek berupa tatanan berbatu
Telaga Biru mulai mengering
Setelah berjalan 30 menit dari pos awal kita sampai di telaga biru, karena gelap kita gak berhenti jadi langsung lanjut jalan. Dan gak berapa lama sampai juga di Jembatan Rawa Gayonggong. Sekitar jam 12.50 Kita istirahat sebentar. Kita istirahat gak lama, langsung melanjutkan perjalanan. Ternyata jembatan ini lumayan panjang, kalo jalan mungkin 5 menit. Dari Jembatan jalan 15 menit kita udah sampai di pertigaan, namanya Panyangcangan. Kalo lurus ke arah air terjun Cibeureum, dan kalo belok kiri ke puncak. Disini ada bangunan yang berdiri kokoh hanya sekedar untuk beristirahat, tapi disini kita langsung jalan.
Break sejenak di Jembatan Rawa Gayonggong
Dari Panyangcangan kita menuju Air Panas, jarak menuju air panas lumayan jauh, lamaaa bangeeett. Mungkin gegara sering istirahat kali yah, jadi kayak gak abis-abis jalannya. Oya, ada cerita agak horror disini. Pas kita jalan sekitar sejaman dari Panyangcangan tiba-tiba didepan sana ada satu daun bergerak-gerak sendiri, padahal disekitar kita gak ada angin. Si Dima yang ada di barisan paling depan langsung bilang ke kita, “Lihat, di depan ada daun goyang-goyang sendiri.” Dan kita langsung saling pandang. Trus Candra langsung bilang, “Udah, kita langsung jalan aja, yang penting kita gak ganggu gakpapa.” Gak tau kenapa suasananya jadi horror kek gini. Jalannya langsung dipercepat, mana didepan berupa tanjakan, jalannya pada cepet-cepet *hoshhoshh*

Yang gak enak kalo jalan malem itu ya ngantuk, nemu tempat yang enak buat istirahat, niatnya sih cuman istirahat bentar tapi lama-lama kenapa semua pada merem. Yaudah deh, gegara ngantuk yang luar biasa hebat, akhirnya kita merem di pinggir jalur pendakian. Hahaha… cuman duduk aja bisa langsung merem.  Jam 5an kita bangun, langsung sholat shubuh, dan gak berapa lama melanjutkan perjalanan. Ternyata tinggal jalan 20 menit kita udah sampai di air panas. Sebelum air panas ada lahan agak luas, tau gitu semalem ngecamp disini, yaudahlah udah terlanjur. 
Air Panas
Air Panas (Candra-Aku-Dima)
Air Panas
Di air panas lumayan bahaya juga sih kalo misalkan jalan malam hari. Harus lebih hati-hati, karena lengah sedikit aja kita bisa terpeleset, tapi disini aman kok ada tali membantu kita saat jalan. Sekitar 10 menit dari air panas kita sampai di Kandang Batu, tempatnya lumayan luas bisa untuk mendirikan tenda. Disini kita istirahat agak lama, masak, sarapan, ngumpulin tenaga. Jam 10.45 kita mulai melanjutkan perjalanan. Dari Kandang Batu menuju Kandang Badak trek lumayan bikin ngap-ngapan, tetep berupa tanjakan berbatu yang tertata rapi. Disini kita ketemu air terjun Pancaweleuh. Kita langsung melanjutkan perjalanan, treknya berupa tanjakan. Kalo udah menemui jalan yang datar, itu artinya Kandang Badak ada didepan sana. Tepat jam 12.00 kita sampai di Kandang Badak, berupa lahan yang cukup luas bisa didirikan banyak tenda. Di Kandang Badak ini sering digunakan untuk bermalam, karena disini awal menuju puncak Gede dan juga Puncak Pangrango.
Menuju Kandang Batu
Kandang Batu
Air Terjun Pancaweleuh
Kandang Badak (Ilham-Aku-Dima-Candra)

Siang itu cuaca lumayan cerah, dan sudah ada banyak tenda yang berdiri disini. Kita langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda. Langsung berbagi tugas, mendirikan tenda, mencari air, dan masak. Tiba-tiba jadi ragu mau ke puncak  Pangrango apa nggak. Gegara Candra dan Dima memutuskan untuk gak naik ke Pangrango, tapi Ilham bilang kalo mau ke Pangrango, dia mau menemani. Setelah aku pikir-pikir, apa gak usah aja ke Pangrango kalo cuman berdua. Lagian tiba-tiba gerimis, yaudah deh, gak usah ke Pangrango juga gakpapa. Ehh.. sekitar jam 3 tiba-tiba cuaca cerah lagi, yah.. bingung lagi. Sayang juga sih kalo cerah kayak gini gak jadi ke Pangrango. Akhirnya jam 15.30 aku sama Ilham mulai naik ke Pangrango. Dari Pertigaan Kandang Badak, kalo ke kanan Puncak Pangrango, ke kiri Puncak Gede. 
 
Masak  yang sekiranya bisa dimasak :D
Diawal perjalanan semangat banget, tapi lama-lama lihat treknya kayak gini terus jadi ragu lagi, rasanya pengen turun. Trek pendakian Pangrango bener-bener dah naudzubilleh beneeeerrr. Bukan lagi berupa tanjakan berbatu, tapi tetep tanjakan terus nyaris tanpa bonus, sempit, banyak pohon gede yang tumbang. Ini cocok banget buat adventurer kelas kakap, memacu adrenalin, gilaaaakk serius sadisnya *hoshhosh*. Mana kita gak ketemu sama pendaki lain, cuman berdua melewati tengah hutan, gelap, lihat langit aja jarang saking lebatnya. Gunung di Jawa Barat itu hutannya lebat-lebat, beda sama gunung yang di Jawa Tengah. Aku sering minta istirahat, sempet bilang pengen turun, tapi Ilham terus ngasih semangat. Dia bilang, “Ayo mbak, puncak bentar lagi, nanggung juga kalo mau turun.”

Di Pangrango ada jalur yang hanya bisa dilalui satu orang, sempit. Aku lihat jam udah hampir jam setengah enam. Dan tiba-tiba udah sampai di jalur yang datar, katanya puncak udah hampir sampai. Tepat jam 17.30 akhirnya sampai juga di Puncak Pangrango 3.019 Mdpl. Alhamdulillah. Dan benar cuman kita berdua yang ada di Puncak Pangrango. Bersyukur sampai puncak belum gelap, kita foto-foto bentar dan langsung turun ke Mandalawangi. Dari Puncak Pangrango ke Mandalawangi bisa dicapai sekitar 5 menit. Sampai di Mandalawangi tiba-tiba berkabut dan langit mulai gelap. Kita gak lama disini, foto-foto bentar dan langsung balik, menuju Puncak Pangrango. Alhamdulillah disini kita ketemu pendaki lain. Akhirnya kita turun bareng, dan ternyata mereka pendaki dari Bogor.  
Puncak Pangrango 3.019 Mdpl
Puncak Pangrango
Ditengah-tengah edelweis Mandalawangi
nah, tetiba dihajar kabut

Sekitar jam 20.00 kita udah sampai di Kandang Badak. Bersih-bersih, sholat, dan langsung tidur, menyiapkan tenaga buat besok, summit attack ke Gede.

Jam 03.30 kita mulai jalan. Di awal perjalanan agak berat, maklumlah namanya juga baru pemanasan. Baru beberapa menit aja aku udah minta break, duhh.. gak enak juga sih sama yang lain. Jalur menuju Puncak Gede gak lagi berupa tanjakan berbatu. Tapi tetep tanjakan gak ada abisnya. Sekitar satu jam jalan kita sampai di tanjakan setan. Di tanjakan setan ini kita harus ekstra hati-hati. Karena disini kita harus naik tebing, tapi ada tali untuk membantu kita naik. Harus pintar-pintar mencari pijakan, kalo salah memilih pijakan bisa terpeleset. 
Tanjakan Setan
Jam 05.30 akhirnya kita sampai juga di Puncak Gede 2.958 Mdpl, Alhamdulillah. Dari sini terlihat Puncak Pangrango dengan gagahnya berdiri disana. Gak nyangka semalem bisa berdiri diatas sana. Kawah gunung gede pagi itu mulai mengepulkan asapnya. Beeeeuuuh.. keren banget view di Puncak Gede. Gak nyesel deh susah–susah sampai sini. Dari Puncak Gede terlihat Alun-alun Surya Kencana yang menjadi salah satu padang edelweiss terbesar di Indonesia. Untuk menuju ke Alun-alun Surya Kencana dari Puncak Gede tinggal turun sekitar 30 menit udah sampai di Alun-alun Surya Kencana. Tapi Sayangnya kemarin kita gak sempet turun. 
view dari Puncak Gede
Kawah Gunung Gede
Kawah Gunung Gede
View dari Puncak Gede
View dari Puncak Gede
View Pangrango dari Puncak Gede
View Pangrango dari Puncak Gede
View dari Puncak Gede
Iseng aja sih :D
Puncak Gede 2.958 Mdpl
Puncak Gede 2.958 Mdpl
view Surya Kencana dari Puncak Gede
Sang Pendekar :p


Jam 07.00 kita mulai turun dari Puncak Gede. Sekitar jam 09.00 sampai juga di Kandang Badak. Mulai masak, dan tetiba tanpa disangka dari belakang ada yang memanggil namaku. Dan ternyata ada temen dari Bandung ketemu disana. Namanya Ulfa, dulu awal kenal dari jejaring sosial, sempat ketemu 2 kali, di Jogja, dan yang kedua di Bandung. Ini pertemuan kita yang ketiga. Seneng banget, berasa dikasih surprise. 
 
Di Tanjakan Setan saat turun
Aku-Ulfa
Setelah makan bareng, packing, jam 11.45 akhirnya kita mulai turun. Sampai di Panyangcangan jam 14.00. Kita ketemu lagi sama Ulfa, dia ngajakin buat turun ke Air Terjun Cibeureum. Dari Panyangcangan ke Air Terjun Cibeureum kira-kira cuman 10 menit. Untuk kesana juga akan melewati jembatan gak jauh beda kayak Jembatan Rawa Gayonggong, cuman bedanya jembatan ini pendek.
Di Air Terjun Cibeureum kita gak terlalu lama, jam 15.00 kita mulai turun. Jalannya santai banget, karena udah lumayan capek juga. Akhirnya jam 16.00 sampai juga di pos pengurusan SIMAKSI.
Air Terun Cibeureum
Air Terun Cibeureum
Air Terun Cibeureum
Jembatan menuju Air Terun Cibeureum


"Dunia itu seluas langkah kaki, Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah.
Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya”

- Soe Hok Gie -
“Mandalawangi-Pangrango”

Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu

Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”

Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup


Djakarta 19-7-1966
-Soe Hok Gie-

Thanks to: Allah SWT | Kedua Orang Tua | Teman seperjalanan (Ilham, Candra, Dima, Ulfa) | Keluarga Besar di Bogor | Teman-teman yang udah nyasar di blog ini :)


Pendakian Gede-Pangrango
23-24 Juni 2014
Salam Lestari,
Rizky Fauzy


Rabu, 29 Mei 2013

Backpacker Gembel To Bromo



Wuaaa.. Bromo. Siapa sih yang gak kenal Bromo? Tempat yang luar biasa indahnya, yang menjadi destinasi para turis mancanegara. Iya, Bromo, Indonesia. Pertama dengernya pasti mahal untuk kesana. Tapi kali ini aku akan membuktikan kalo ke Bromo itu bisa kok dengan budget minim *ahh.. masa sihh?* Iya, prestasi cukup membanggakan bagiku bisa ke Bromo dengan budget seminimal mungkin *halaaaaahhh*. Begini nih ceritanya..

Weekend kemarin, tepatnya Jumat, 24 Mei 2013 aku ke Bromo. Ini rencana udah jauh-jauh hari. Pertamanya sih cuman obrolan ringan dengan sodara sepupu 2 bulan sebelum hari H. Kita mencoba berburu partner buat kesana, bisa sih cuman berdua aja kesana, tapi kurang seru. Akhirnya kita udah pastiin kesana berempat (Aku, Rina, Mas Wahyu, dan Ndaru). Akhir April kita langsung berburu tiket kereta. Kita memilih langsung turun Probolinggo, jadi kita pesan tiket KA Sri Tanjung dan turun di Probolinggo @35k. *murah banget kan :D*

Selama sebulan ini kita semangat nyari informasi tentang Bromo, selain dari catper yang bertebaran di internet kita juga tanya-tanya ke beberapa temen yang udah pernah kesana. H-1 ternyata adik sepupu aku (adiknya Rina), Muna namanya pengen ikut. Hari itu juga langsung nyari tiket kereta, ternyata busseeeett... mahaaal berkali-kali lipat, harganya 90k.

Jum’at, 24 Mei 2013
Hari yang ditunggu pun datang juga. Dan meeting point kita di Stasiun Klaten. Kita janjian jam 07.30 pagi harus udah ngumpul di stasiun, karena kereta Sri Tanjung jam 08.10 berangkat dari Klaten. Dari kita ternyata ada yang belum sarapan, yaudah beli sarapan nasi bungkus di depan stasiun buat dimakan ntar di kereta.

Jam 08.00 kereta Sri Tanjung datang, ternyata ini diluar perkiraan kita. Dulu waktu pesan tiket kan kereta belum ber-AC, makanya harganya masih harga lama. Tapi, yang kita naiki sekarang ini kereta ber-AC. Haha... beruntung banget sih kita, tarif lama tapi dapet kereta ber-AC (FYI kereta ber-AC Sri Tanjung sekarang 90k :D).


Jam 16.05 sampai juga kita di Probolinggo. Yaah.. ini udah lebih dari jam 04.00 sore, itu artinya ntar kita naik Elf bukan tarif normal :(. Kita langsung nyari mushola di Stasiun Probolinggo *hehe... kita belum sholat Dzuhur, jadi kita langsung sholat Ashar dijamak dengan Dzuhur :D*
kiri-kanan: Mas Wahyu, Muna, Rina, Aku
Keluar dari stasiun Probolinggo, kita langsung nyari angkot. Tapi sebelum kita nyari angkot, udah ada beberapa calo yang nawarin kita mobil carteran. Mungkin para calo udah tau penampilan kita yang gampang ditebak ini pasti mau ke Bromo, jelas aja pada manggul ransel dan keril segede gaban. Kita pun tetep kekeuh gak mau terima carteran calo itu, tawarannya sih @50k sampai Cemoro lawang. Tapi kita tetep nyari angkot buat nganter kita sampai terminal, biar ntar dapet harga yang lebih murah *haha... agak ribet memang, gakpapa nyari ngiritnya :D*

Akhirnya kita naik angkot ke terminal Probolinggo, namanya terminal Bayuangga @3k. Gak jauh sih sebenernya, sekitar 20 menit kita nyampai di terminal. Dan memang keberuntungan ada di kita, baru turun dari angkot udah ada bapak-bapak nawarin kita Elf (angkot khusus ke Cemoro Lawang) @25k, padahal udah lebih dari jam 4 sore. Tanpa pikir panjang kita langsung menuju Elf. *assiiiiikkk*

Ternyata Elf masih nunggu penumpang, disini ada kita dan ada 3 orang bule. Harus sabar sih kalo mau dapet harga murah. Sambil nunggu penumpang yang lain, kita nyari nasi bungkus buat makan malam ntar. Oya, kalo mau ke Bromo mendingan nyari sesuatu di Probolinggo aja, soalnya harga-harga di atas sana terhitung mahal. Waktu udah menunjukkan jam 17.30, sopir Elf ngasi tawaran ke kita langsung berangkat tapi dengan tarif @35k. Dan kita mengiyakan tawaran itu.

Lama perjalanan terminal Probolinggo - Cemoro Lawang sekitar 1,5 – 2 jam. Ternyata jaraknya lumayan jauh juga, jalanannya pun khas pegunungan nanjak dan berkelok. Jam 19.30 sampai juga di Cemoro lawang. Namanya juga long weekend, udah pasti Bromo ramai pengunjung. Untuk penginapan disini berbagai macam jenis penginapan, dari yang harga selangit (bagi orang-orang yang bingung mau dikemanain duitnya), sampai penginapan dengan harga yang terbilang normal. Tapi kita memilih ngecamp *lebih ngirit haha... :D* Kita mencoba tanya-tanya ke orang lokal dimana camping ground, dan katanya di belakang Hotel Lava view, tepatnya 500 meter dari pintu masuk kawasan Bromo.
Pintu masuk Bromo
Tiket masuk Bromo
 

Untuk masuk ke kawasan Bromo HTM @6k. Di pintu masuk kawasan Bromo ini, kita tanya-tanya transport menuju ke Bromo. Dan ternyata untuk menuju ke Bromo harus dengan jeep, tapi untuk saat ini semua jeep udah di booking *haduuuuuwh.. namanya juga long weekend :(* bisa juga sih dengan jalan kaki, tapi katanya jaraknya lumayan jauh. Mas-mas yang jaga disana ngasi tawaran ke kita, kita bisa naik jeep @170k dengan tujuan penanjakan 1 dan kawah Bromo. Kita kan berlima, itu artinya total 850k *mahaaaaaallll!!! :(* padahal harga normal jeep di hari-hari biasa 450k. Setelah berkompromi singkat, kita memilih gak jadi naik jeep, kita JALAN!! *wuuaaaaa....*

Ada cerita lucu disini. Gak jauh dari pintu masuk ada tanah luas, kita mengira itu camping ground yang dikasih tau tadi. Tanpa pikir panjang kita mendirikan tenda disitu. Tapi lama kelamaan kok bau gak enak nusuk dihidung. Ternyata disitu adalah tempat untuk parkir mobil dan juga kuda-kuda yang mau ke Bromo!! wahahaha. . . .

Akhirnya kita pindah, bongkar tenda, padahal si Ndaru udah PW didalam tenda haha... Kita baru nyadar, tadi kan dikasih tau jarak camping ground dari pintu masuk 500 meter :D bener-bener kaya mau pindahan rumah, mana lewatin depan hotel pula, jelas banget kesenjangan sosialnya haha.... sampai di camping ground kita langsung mendirikan tenda, dan dari sini gunung batok dan bromo terlihat jelas, apalagi malam itu bulan purnama, asli kereeenn... :)

Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat pagi Bromo.... pagi ini Bromo terlihat cerah. Biarpun menikmati pagi bukan berada di penanjakan (FYI di penanjakan tempat yang sempurna untuk menimati pagi di Bromo), tapi disini juga gak kalah kerennya kok. Jam 06.00 kita mulai packing dan segera menuju kawah Bromo dengan jalan kaki tentunya. Agak ragu juga sih, kayanya jauh banget ke kawah bromonya, tapi yakin bisa,, oke bisaaaa.... Kita langsung jalan, dan ternyata kita salah jalur, tapi gak terlalu jauh juga sih salah jalurnya, gakpapa lumayan buat pemanasan :D




Mahameru mengintip dari balik Bromo, tunggu aku disanaaa... :D


Semeru - Bromo - Gunung Batok


turun dulu, salah jalur




Dari camping ground kita harus turun ke jalan beraspal, ternyata jalanan udah ramai bermacam kendaraan, dari jeep, motor pribadi, ojek, sampai kuda menuju tujuan yang sama, mana lagi kalo bukan kawah bromo. Untuk ukuran gunung, trek menuju kawah bromo ini enak banget. Namanya juga gunung wisata, ya gak begitu sulit untuk dilewati dibanding gunung-gunung yang umumnya didaki oleh pendaki. Diawal, trek turunan beraspal, melewati lautan pasir yang datar, trus nanjak sampai deh di kawah bromo. Di turunan beraspal, ternyata padat banget oleh jeep-jeep. Secara ini long weekend, ramai oleh wisatawan lokal ataupun mancanegara.
tetep semangat jalan kaki ditengah para pengendara :D
berjalan ditengah lautan pasir
sarapa duluuu... :D
Ditengah lautan pasir kita berhenti buat sarapan, sarapan kali ini ala kadarnya tapi tetep nikmat kok :D. Udah kelar sarapan kita langsung melanjutkan pengembaraan kita *halaaahh* gak nyampai satu jam kita udah sampai di tangga bromo. Disini, ternyata bunga edelweiss dijual bebas. Miris juga sih ngeliatnya, pada umumnya yang menjual bunga edelweiss adalah penduduk lokal. Mungkin salah satu alasannya kenapa mereka melakukan hal ini karena alasan ekonomi. Sempat aku tanya harga dengan bapak-bapak yang menjual bunga edelweiss (gak ada niatan buat beli) harga per ikat bunganya sekitar 25k *hadeeeewh.. kenapa musti ngejual bunga edelweiss sih pak...!! :(* tapi tetep, ada juga yang mau beli itu bunga, apalagi kalo bukan karena alasan bunga edelweiss adalah bunga abadi *ngelus dada :(*
 
Edelweiss dijual bebas di Bromo, miris :(
coba tebak, itu orang atau semut??
Sampai juga di tangga bromo, beeeeeuuhh... antreannya meeeenn, kaya mau antre sembako. Tiap naik beberapa langkah yang depan berhenti, naik lagi depan berhenti lagi *hadeeewh... lamaaaa...*. Akhirnya sampai juga di kawah bromo. Kalo gak hati-hati disini bisa bahaya juga ini mah. Istirahat sebentar, foto-foto, minum, langsung turun deh.
antre di tangga Bromo










Turunnya kita lebih milih gak lewat tangga, selain lama gegara antre, kita pengen ngerasain sensasi yang berbeda hehe... kita turun lewat turunan pasir, gak butuh waktu yang lama untuk turun tapi tetep hati-hati harus diutamakan.

Sesampainya dibawah, dilautan pasir, banyak tukang ojek yang nawarin jasa. Sampai parkir 10k, tapi kita tetep pilih jalan kaki, selain menghemat budget, itung-itung olahraga *haha.. alibi* Tak berapa lama sampai juga kita di tanjakan beraspal. Ini nih yang membuat energi terkuras hebat. Sempet istirahat sekali tapi cuman bentar aja sih, trus lanjutin perjalanan. Dan ternyata ditanjakan ini ada jeep yang gak kuat nanjak, haha... kita yang jalan kaki dengan bangganya tetep lanjut jalan :D

Waktu udah menunjukkan hampir jam 11.00, tanpa pikir panjang kita langsung nyari elf untuk segera menuju ke terminal Probolinggo. Ada banyak banget elf disini, tapi kita kudu nyari elf yang udah hampir penuh penumpang, biar langsung jalan. Keberuntungan memang lagi berada di kita. Kita langsung ditawarin sopir elf, dan katanya ini langsung berangkat *assiiiiikkk*. Ternya sebelum kita ada beberapa traveler yang uda nunggu penumpang yang lagi nyari elf seperti kita. Setelah ngobrol-ngobrol dikit, ternyata dia udah nunggu hampir 2 jam *beruntung banget yah kita :D*

Jam 11.00 elf jalan, dan jam 12.10 sampai juga di terminal Probolinggo. Kita langsung menuju ke mushola, bersih-bersih, sholat, trus makan siang. Sempet bingung habis ini kita kemana. Sebenernya rencana awal kemarin, habis dari bromo kita lanjut ke Madakaripura. Tapi untuk menuju kesana, kita kurang paham, mengingat waktu juga sih, terlalu mepet. Yaudah, habis makan siang kita jalan-jalan ke kota probolinggo, tepatnya ke alun-alun Probolinggo. Naik angkot sekali udah sampai di alun-alun Probolinggo. Dan kita baru nyadar, ternyata letak alun-alun ada di depan stasiun Probolinggo haha...

Untuk pulang ke Klaten kita naik bus, selain menghemat budget, pengen nyari sensasi yang lain :D. Bus tujuan Jogja adanya jam 7 malam, jadi kita habiskan waktu cuman di alun-alun Probolinggo. Maghrib kita langsung nyari angkot menuju terminal. Sampai di terminal kita langsung menuju mushola buat sholat maghrib dan Isya. Tepat setelah sholat bus datang, dan kita pulaaaangg... Selamat tinggal Bromo, selamat tinggal Probolinggo.... :)

Sampai di Klaten jam 03.50, waktu udah hampir subuh. Kalo jarak dari jalan Jogja-Solo (turun dari bus)  ke rumah jaraknya 1 km. Mau menghubungi orang rumah gak enak, yaudah deh jalan kaki sendirian *beeeeeuuuhh... bener-bener backpacker gembel ini :D*. Bagiku ini adalah perjalanan yang bener-bener luaaaarr biasaaa.... :)


P.S. Info pengeluaran:
Tiket KA Sri Tanjung @35k x 5        : 175k
Sarapan                                            :   13k
Angkot ke terminal @3k x 5              :   15k
Aqua                                                 :   15k
Nasi+gorengan                                  :   22k
Elf berangkat @35k x 5                    : 175k
HTM Bromo @6k x 5                      :   30k
Elf pulang @25k x 5                          : 125k
Makan siang                                      :   40k
Angkot ke alun2 @3k x 5                  :   15k
Makan malam                                    :   34k
Angkot ke terminal @3k x 5              :   15k
Bus @55k x 5                                   : 275k
Total ====================> 949.000/5 : @189.800, dibulatkan @190k :D